Kajian Metode Constructed Wetland Sebagai Alternatif Sistem Pengolahan Lanjut Air Efluen Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT)
Keywords:
air efluent IPLT, constructed wetland, pengolahan lanjutAbstract
Keberadaan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) sangat penting bagi setiap kota/kabupaten. Teknologi pengolahan yang telah dibangun di banyak IPLT masih mengacu pada baku mutu yang lama, sehingga kualitas air hasil olahan IPLT sampai saat ini belum sepenuhnya memenuhi persyaratan Baku Mutu yang telah ditetapkan. Dengan demikian sebelum air hasil olahan suatu sistem IPLT dibuang ke lingkungan, harus dilakukan perbaikan kualitasterlebih dahulu. Perbaikan kualitas air efluen IPLT dapat dengan melakukan pengolahan lanjutan. Tujuan dari tulisan ini adalah melakukan kajian pemanfaatan metode reaktor lahan basah terkendali (Constructed Wetland) sebagai alternatif pengolahan lajut air efluen IPLT.
Constructed Wetland (CW) adalah sistem pengolahan reaktor lahan basah dengan sistem rekayasa teknik yang telah didisain untuk memenuhi proses alami yang melibatkan peran vegetasi, tanah dan hubungannya dengan kehadiran mikroba yang berperan dalam mengolahan air limbah. Sistem CW telah digunakan untuk mengolah berbagai jenis air limbah rumah tangga dan industry. CW adalah teknologi pengolahan air limbah yang mempunyai efisiensi tinggi dari sisi ekonomi dan lingkungan, terutama untuk air limbah rumah tangga di rural area. Penelitian untuk meningkatan kinerja CW telah banyak dilakukan. Banyak data menunjukkan bahwa kinerja lahan basah dalam hal ini CW yang digunakan untuk penjernihan air sangat tergantung pada tingkat pembebanan Hidraulik (Applied Hydraulic Loading Level). Pemilihan jenis media sangat penting untuk menentukan hasil pengolahan dari sistem CW.
Dari hasil penelitian Verma R dan Suthar S menunjukkan Vertical Flow Constructed Wetland (VFCW) lebih unggul daripada Horizontal Flow Constructed Wetland (HFCW) dalam penyisihan NH4-N, PO4-3, BOD5, COD dan logam berat, sedangkan NO3-N dan SO4-2lebih tinggi tingkat penyisihannya pada HFCW. Oksigen terlarut (DO) adalah salah satu faktor terpenting yang dapat mempengaruhi proses penyisihan polutan di constructed wetland. Namun pasokan oksigen tidak mencukup serta distribusi oksigen yang tidak tepat umumnya terjadi di constructed wetland tradisional. Liu H, Hu Z, Zhang,et al, 2016, melakukan kajian tentang optimalisasi suplai dan distribusi oksigen terlarut dalam reaktor constructed wetland. Penelitian ini menyimpulan reareasi atmosfer (AR) berpotensi menjanjikan untuk intensifikasi oksigen.
Downloads
References
Brix, H. 1996. Wetland Systems for Water Pollution Control: Do Macrophytes Play a Role in Constructed Treatment Wetland,Pergamon: Oxford
Cair Recep, Ulviye Cebi, 2015, A Study on the effects of different hydraulic loading rates (HLR) on pollutant removal efficiency of subsurface horizontal-flow constructed wetlands used for treatment of domestic wastewater, Journal of Environmental Management, Vol 164, 1 Desember 2015, pg 121 -128
H Liu, Hu Z, Zhang,et al., 2016, Optimizations on supply and distribution of dissolved oxygen in constructed wetland : A review, Bioresource Technology , 2016, Volume 214, august 2016, pg 797-805
Kadlec, R.H., Knight, R.L. 1996. Treatment Wetlands.Boca Raton:CRC, Lewis.893pp
Lu Shibau, Liang Pei, 2016, Impacts of Different Media on constructed wetlands for rural household sewage treatment, Journal of Cleaner Production, Volume 127, 20 July 2016, pg 325 -330
Pemerintah Republik Indonesia, Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.68/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2016 Tahun 2016
Polpraset Chongkrak. 2000.Organik Waste Recycling. John Wiley and Sons.
R Verma, Suthar S, 2018, Perfomance assessment of horizontal and vertical surface flow constructed wetland system in wastewater treatment using mutvariate principal component analysi., Ecological Engineering (2018), 116 pg 121-126
Tazkiaturruzki, 2012. Thesis, Penyisihan Nitrogen dan Fosfat pada Efluen IPAL Bojongsoang Menggunakan Constructed Wetland Tipe Subsurface Horixontal Flow Dengan Sistem Umpan Menerus. Bandung. Program Studi Magister Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung.